BELAJAR BAHASA ARAB

Juli 1, 2011

KENAPA KITA PERLU BELAJAR BAHASA ARAB ???

Alasan 1: Agar kita tidak seperti ORANG MABUK ketika sholat

Saudara-saudari yang kami cintai karena Alloh…

Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita sholat dalam keadaan mabuk.

Kenapa ???

Agar kita sadar dengan bacaan sholat yang kita ucapkan.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat ketika kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.”

(QS. An-Nisa [4]:43)

Alhamdulillah, sekarang ini kita tidak pernah melihat ada orang yang sholat dalam keadaan mabuk. Namun, apakah lantas mereka sadar dengan yang mereka ucapkan ketika sholat??? Apakah lantas mereka mengerti bacaan sholat mereka??? Entahlah.

Coba saja tanyakan sendiri kepada mereka:

  • Sudahkah mereka mengerti do’a istiftah yang mereka baca?
  • Sudahkah mereka mengerti makna dari surat al-fatihah yang mereka baca?
  • Sudahkah mereka mengerti makna dari ayat-ayat al-Qur’an yang mereka baca?
  • Sudahkah mereka mengerti zikir yang mereka baca ketika rukuk?
  • Sudahkah mereka mengerti zikir ketika i’tidal?
  • Sudahkah mereka mengerti zikir ketika sujud?
  • Sudahkah mereka mengerti bacaan duduk di antara dua sujud?
  • Sudahkah…..? Sudahkah….?

Alasan 2: Agar SHOLAT kita KHUSYUK

Khusyuk dalam sholat merupakan sebuah kewajiban. Dan salah satu sarana agar bisa khusyuk dalam sholat adalah mengerti bacaan sholat yang diucapkan.

Alasan 3: ALLOH Subahanahu wa Ta’ala MENYURUH kita

Kita diperintahkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk mentadaburi al-Qur’an.

Alloh Subhanahu wa Ta’a berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran,

ataukah hati mereka terkunci?”

(QS. Muhammad: 24).

Namun kita tidak akan mungkin bisa mentadaburi al-Qur’an secara sempurna

tanpa kita mengerti bahasa Arab.

Saatnya kita belajar BAHASA ARAB !!!

Pingin belajar BAHASA ARAB tanpa harus keluar rumah ???

Ikutan aja….

PELATIHAN BAHASA ARAB JARAK JAUH

UNTUK ORANG AWAM

CARA belajarnya GIMANA ???

Anda cukup mempelajari modul yang kami berikan di rumah masing-masing

Jika ada yang belum faham, Anda bisa bertanya VIA SMS

MODUL apa yang digunakan ???

Modul yang digunakan berasal dari kitab FAHIMNA yang disusun oleh TIM PENGKAJI BAHASA ARAB PUSTAKA LAKA.

Kitab FAHIMNA merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. Kitab ini disusun khusus untuk ORANG INDONESIA dan dibuat sedemikian rupa agar bisa DIPELAJARI SENDIRI oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab. Penyusunan materi dalam kitab ini berdasarkan PENGALAMAN BELAJAR & MENGAJAR TIM PUSTAKA LAKA di berbagai tempat & kalangan. Di dalamnya terdapat: teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.

Kenapa dilakukan jarak jauh?

Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.

Apa Target yang Ingin Dicapai?

Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:

  • Menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.
  • Mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat.
  • Bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab.
  • Mengerti doa dan dzikir dalam sholat.
  • Mengerti ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca.
  • Bisa membaca kitab gundul untuk tingkatan pemula.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?

Untuk menguasai kaidah dasar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), ada 6 KELAS yang harus dilewati. Masing-masing kelas membutuhkan waktu + 1 BULAN. Insya Alloh dalam waktu + 6 BULAN (bahkan bisa kurang), Anda sudah bisa memahami kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Qur’an, hadits, do’a, dzikir, dll. Jadi sangat tergantung pada kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu sekitar 3-4 bulan, bisa mencapai target yang diharapkan.

BERAPA BAYARNYA ?

Biaya pendaftaran: Rp.50.000,-/Kelas

FASILITAS:

  • Modul Kelas 1 yang berisi teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.
  • Konsultasi VIA SMS setiap hari.

Kenapa harus bayar?

Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar Rp.50.000/kelas kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.

Namun bila Anda merasa KEMAHALAN, anda bisa menggunakan cara lain. Silakan Anda beli sendiri buku-buku panduan belajar bahasa Arab di toko buku. Kemudian Anda minta orang yang mengerti bahasa Arab untuk mengajari Anda (Sebab kebanyakan buku tata bahasa Arab yang beredar di masyarakat, harus dipelajari dengan bimbingan langsung seorang guru secara intensif). Jadi, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar.

 

Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran?

Ya, kami sengaja membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:

  1. Kami ingin peserta pelatihan mempelajari bahasa Arab secara santai. Kami tidak ingin membuat peserta pelatihan merasa berat karena melihat banyaknya pelajaran yang harus dilewati.
  2. Kami ingin peserta pelatihan memiliki pondasi yang kuat dalam belajar. Kami ingin peserta kajian betul-betul kuat dalam pemahaman sebuah materi pelajaran sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

AYO IKUTAN !!! MUMPUNG ADA KESEMPATAN !!!


KETIK SMS: NAMA/ALAMAT LENGKAP/PBAJJ

KIRIM KE: 0856 9510 4219 / 0898 3636 7655

Biaya pendaftaran bisa ditransfer ke BANK MUAMALAT

no. rek 920 766 5199 a.n. Mujianto

Modul dll. akan segera dikirim setelah transfer.

Mohon ada pemberitahuan setelah mentransfer.

UNTUK WILAYAH BOGOR BEBAS ONGKOS KIRIM

UNTUK LUAR BOGOR ADA TAMBAHAN ONGKOS KIRIM:

Rp. 5.000,- (Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi)

Rp. 10.000,- (Pulau Jawa di luar JADETABEK)

Rp.20.000,- (Luar Jawa)

Info lebih lanjut:

http://pustakalaka.wordpress.com atau hub: Abdul Jabbar: 0856 9510 4219

 

Semoga informasi ini bermanfaat!

Tim Pengkaji Bahasa Arab Pustaka Laka

http://pustakalaka.wordpress.com

EBOOK GRATIS

Perjalanan Panjang yang Pasti Kita Lewati

Kenapa Kita Butuh Sholat Berjama’ah


Ada Apa Dengan PBAJJ ?

Juni 28, 2011

Kenapa dibentuk PBAJJ?

 

PBAJJ (Pelatihan Bahasa Arab Jarak Jauh) ini dibuat karena beberapa alasan:

  1. Pentingnya bahasa Arab bagi kehidupan seorang Muslim.
  2. Banyaknya kaum Muslimin yang belum tahu tentang pentingnya bahasa Arab.
  3. Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum ada kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Arab di luar rumah.
  4. Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum tahu metode yang tepat dalam belajar bahasa Arab?

 

Oleh karena itu, dalam rangka memasyarakatkan bahasa Arab ke tengah-tengah ummat, dan membimbing kaum Muslimin yang ingin menguasai bahasa Arab, maka dibentuklah PBAJJ.

 

Kenapa dilakukan jarak jauh?

Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.

 

Kenapa digunakan kitab FAHIMNA?

            Kitab FAHIMNA merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. Kitab ini disusun agar bisa dipelajari sendiri oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab.

 

Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran?

Ya, kami membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:

  1. Kami ingin peserta pelatihan mempelajari bahasa Arab secara santai. Kami tidak ingin membuat peserta pelatihan merasa berat karena melihat banyaknya pelajaran yang harus dilewati.
  2. Kami ingin peserta pelatihan memiliki pondasi yang kuat dalam belajar. Kami ingin peserta kajian betul-betul kuat dalam pemahaman sebuah materi pelajaran sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

 

Apa Target yang Ingin Dicapai?

Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:

  1. Menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.
  2. Mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat.
  3. Bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab.
  4. Mengerti doa dan dzikir dalam sholat.
  5. Mengerti ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca.
  6. Bisa membaca kitab gundul untuk tingkatan pemula.

 

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?

Sangat tergantung banyak hal. Diantaranya kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu sekitar 3-4 bulan, bisa mencapai target yang diharapkan.

 

Kenapa harus bayar?

Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar Rp.50.000/kelas kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.

 

Jika Anda puas dengan pelatihan ini, silakan ajak kawan-kawan Anda untuk ikut bergabung

Namun, jika Anda kecewa, mohon hubungi kami

Saran dan kritik yang membangun dari Anda sungguh kami harapkan


PELATIHAN BAHASA ARAB JARAK JAUH

Juni 28, 2011

Sudahkah Anda MEMAHAMI ayat Al-Qur’an yang Anda baca? Sudahkah Anda MENGERTI bacaan sholat yang Anda ucapkan?

Saatnya kita belajar BAHASA ARAB…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Bahasa Arab itu sendiri adalah termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami al-Qur’an dan as-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidaklah kewaj…iban itu sempurna kecuali dengannya maka ia (belajar bahasa Arab) menjadi wajib. Kemudian diantaranya ada yang fardhu ‘ain dalam mempelajarinya dan adakalanya fardhu kifayah.” (Iqtidho, Ibnu Taimiyah: 1/527)

TIDAK ADA waktu untuk kursus bahasa Arab di luar rumah??? Kabar gembira!!! Telah hadir… Pelatihan BAHASA ARAB Jarak Jauh untuk BEKAL MEMAHAMI AL-QUR’AN & bacaan sholat

Biaya perkelas Rp. 50.000,- (Sampai Naik Kelas)

Fasilitas: Modul pelatihan, soal-soal ujian, konsultasi via SMS (SETIAP HARI). (GRATIS)

Untuk menguasai kaidah dasar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), ada 6 KELAS yang harus dilewati. Masing-masing kelas membutuhkan waktu + 1 BULAN. Insya Alloh dalam waktu + 6 BULAN (bahkan bisa kurang), Anda sudah bisa memahami kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Qur’an, hadits, do’a, dzikir, dll.

Pelatihan akan dipandu oleh para pengajar yang sudah berpengalaman

Anda berminat untuk belajar ??? KETIK SMS: NAMA/ALAMAT LENGKAP/PBAJJ KIRIM KE: 0856 9510 4219 / 0898 3636 7655

Biaya pendaftaran bisa ditransfer ke BANK MUAMALAT no. rek 920 766 5199 a.n. Mujianto

Modul dll. Akan segera dikirim setelah transfer. Mohon ada pemberitahuan setelah mentransfer.

UNTUK WILAYAH BOGOR BEBAS ONGKOS KIRIM

UNTUK LUAR BOGOR KENA TAMBAHAN ONGKOS KIRIM DENGAN KETENTUAN:

Untuk Jadetabek Rp. 5.000,- Untuk luar jabodetabek (pulau jawa): Rp. 10.000,- Untuk luar jawa, ditanggung sepenuhnya oleh peserta pelatihan Info lebih lanjut: http://pustakalaka.wordpress.com/ atau hub: Abdul Jabbar: 0856 9510 4219

“Pelajarilah BAHASA ARAB, karena BAHASA ARAB merupakan bagian dari agama kalian.” (Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu)


Melepas Kepergian Seorang Sahabat

Agustus 28, 2010

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

“Nama antum siapa?”

“Bang…”, demikian dia biasa memanggilku. Jika kami bertemu & kami berdua sedang dalam posisi berdiri, diapun langsung memelukku. Sepertinya kami sudah sangat akrab. Padahal belum terlalu lama aku mengenalnya.

Entahlah, aku sendiri kini sudah lupa, kapan kira-kira pertama kali berjumpa dengannya. Mmm…kalau tidak salah, saat aku mengajar bahasa Arab di sebuah musholla. Pesertanya semua mahasiswa, lebih tepatnya mahasiswa IPB. Rata-rata sudah tingkat akhir dan sedang melakukan penelitian. Oh tidak, sepertinya ada satu orang yang sudah alumni. Namanya Indra wijiadi, MNH 37. Dan pernah ikut pula seorang alumni UGM yang sedang mengambil S2 di IPB. Namanya aku lupa. Yang aku ingat, dia masuk UGM tahun 1998.

“Awan”, jawabnya.

Mendengar namanya pikiranku langsung melayang ke atas. Sebab, namanya sama dengan benda yang biasa kita lihat melayang-layang di angkasa. Akupun spontan berkata, “As-samaa…”, sambil tanganku menunjuk ke langit. “As-samaa” dalam bahasa Indonesia artinya “langit”. Yang hadirpun tertawa.

Baru di kemudian hari aku mengetahui kalau nama lengkapnya Muhammad Rasyid Setiawan. Dan di kemudian hari pula aku baru mengetahui kalau dia ternyata kuliah di sebuah jurusan yang pernah aku masuki sekitar 12 tahun yang lalu. Jadi kami kuliah di jurusan yang sama. Berarti dia adik kelasku satu jurusan.

Dia adalah guruku

Tidak terlalu sering aku berjumpa dan berinteraksi dengannya. Bahkan bisa dibilang jarang sekali. Sebab kita punya kesibukan yang berbeda. Dia sibuk dengan dunianya, dan aku pun sibuk dengan duniaku. Namun, ada satu kenangan yang takkan mungkin aku lupakan. Dialah orang yang mengajariku cara bekam. Anda tahu  kan bekam itu apa? Bekam itu adalah metode pengobatan dengan cara melakukan menyayatan dan penyedotan darah kotor dari dalam tubuh. Demikian kira-kira pengertian mudahnya.

Ceritanya begini…

Suatu hari Faiz (TPT 40) merasakan badannya kurang enak. Biasanya, kalau sudah dibekam dia merasa badannya lebih enakan. Maka diapun minta tolong Awan untuk membekamnya. Awan menyanggupi. Dan memang Awan terkenal jago bekam.

Sekitar pukul 9 siang kami berdua (aku dan Faiz) berangkat dari Ciomas menuju Darmaga. Kami berdua tinggal di Ciomas, sedangkan Awan kos di Darmaga.

Awalnya aku tidak ada niat untuk langsung melakukan praktek bekam. Aku cuma ingin melihat bagaimana caranya melakukan bekam. Tapi, ketika aku lihat caranya sangat mudah, akupun tertarik untuk langsung mencobanya.

Waktu itu, bisa dibilang justru aku yang malah membekam Faiz. Awan cuma memberi contoh sekali. Setelah itu aku yang melakukan penusukan dan penyedotan darah kotor. Awan cuma melihat saja sambil sesekali memberi penjelasan. Kira-kira satu jam lebih kami melakukan pembekaman.

Semoga ilmu bekam yang diajarkan Awan kepadaku (dan kepada teman-teman yang lain) bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir kepadanya. Amiin…

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Ingin mengembara

Awan pernah bercerita kepadaku bahawa dahulu dia sempat punya keinginan untuk mengembara. Dia ingin keliling Indonesia. Untuk biaya hidup akan dia dapatkan dari upah membekam orang. Namun keinginannya itu dia urungkan karena mengetahui kalau upah bekam itu khobits (kotor).

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hasil kerja juru bekam adalah kotor.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Walaupun bukan suatu yang haram, tapi sepertinya Awan tidak  ingin makanan yang masuk ke tubuhnya berasal dari harta yang khobits.

Subhanalloh!! Sungguh suatu sikap yang patut ditiru. Sebab zaman sekarang banyak orang yang tidak peduli lagi dengan masalah ini. Mereka tidak peduli, apakah harta yang diperolehnya itu berasal dari yang halal atau yang haram. Dan fenomena ini memang merupakan tanda dari sekian banyak tanda akan dekatnya hari kiamat.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan datang suatu zaman atas ummat manusia yang mana waktu itu mereka tidak lagi peduli dengan cara apa mendapatkan harta. Dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR. Al-Bukhori)

Akhirnya dia memutuskan untuk kuliah. Dan masuklah dia di jurusan Teknik Pertanian (TEP). Entah apa alasan dia masuk jurusan ini. Apakah alasannya sama denganku yang mengira di jurusan ini aku akan diajari cara bercocok tanam, seperti cara bercocok tanam mangga, pepaya…….dll. Atau memang dia tahu Teknik Pertanian itu maksudnya Mekanisasi Pertanian. Jadi pelajaran yang diberikan seputar alat dan mesin yang digunakan dalam bidang pertanian. Entahlah…

Ingin keluar

“Ane pusing bang….”, demikian kira-kira curhatnya kepadaku di suatu ketika. “Ane nggak bisa hitung-hitungan. Nilai ane jelek-jelek.”

Memang, di jurusan TEP cukup banyak pelajaran hitung-hitungan. Seingatku, setiap semester tidak pernah sepi dari pelajaran hitung-hitungan. Misalnya saja Kalkulus 2, Matematika Teknik, TPP, Kekuatan Bahan, ….dll. Bagi orang yang lemah atau tidak suka hitung-hitungan tentu akan merasa tersiksa. Dan mungkin inilah yang dirasakan oleh Awan. Hingga akhirnya dia sempat bilang kepadaku kalau dia ingin keluar kuliah!

Awan pernah  menyatakan keinginannya ini kepada kedua orangtuanya. Ibunya  tidak keberatan  jika itu memang yang dianggap baik bagi si Awan. Namun ayahnya tetap bersikeras agar Awan menyelesaikan kuliahnya. Ayahnya ingin kelak Awan bekerja di tempat yang layak. Intinya, ayahnya tidak mengijinkan Awan keluar kuliah.

Akhirnya, demi untuk menuruti kemauan orang tua dan untuk birrul walidain, Awan pun tetap melanjutkan kuliah meskipun harus dijalani dengan susah payah. Sebab, banyak pelajaran yang harus dia ulang. Namun dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, akhirnya awan bisa melewati satu tahun kuliah dengan prestasi yang lebih baik dari setahun sebelumnya.

Saat liburan panjang, terjadilah peristiwa itu.

Pada sebuah siang

Hari Senin 26 Juli 2010. Tersiar kabar Awan mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dari sepeda motor. Saat itu (26 Juli) dia terbaring tak sadarkan diri di Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (RSFKUKI).

Siang itu Awan dan Yusuf (ITP 44, kawan dekat Awan) naik sepeda motor dari rumah Awan di  Bekasi menuju Bogor. Yusuf yang mengendarai motor sedangkan Awan membonceng dibelakang sambil membawa tabung gas 3 kg di pangkuannya.

Ketika sampai di daerah UKI, terjadilah apa yang terjadi. Mereka berdua terjatuh dari sepeda motor.

Keesokan harinya (Selasa 27 Juli 2010) beberapa orang kawan pergi menjenguk Awan di rumah sakit. Ada dua orang dari Darmaga, Frendy (ITP 43) dan Caesar (FISIKA 46). Frendy adalah teman sekosan awan.

Menurut cerita Frendy, kondisi awan sangat memprihatinkan. Rahangnya patah dan paru-parunya terluka cukup parah. Untuk bernafas dibutuhkan alat bantu. Sepertinya bagian depan tubuh awan terbentur hebat dengan benda keras. Namun tidak jelas kronologis kejadian yang sebenarnya seperti apa. Orang-orang yang berada di tempat terjadinya kecelakaan tidak ada yang mau bercerita. Mereka takut menjadi saksi. Mereka saling tunjuk satu dengan yang lain. Mereka hanya menonton saja.

Yusuf pun tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa. Dia sempat tak sadar sesaat. Begitu sadar, di sekelilingnya banyak orang berkerumun. Awan masih tergeletak dengan hidung mengeluarkan darah. Awan mengerang kesakitan. Namun tak seorang pun yang menolong mereka.

Yusuf berusaha mencari kendaraan untuk membawa Awan ke rumah sakit. Namun tak satupun kendaraan yang mau diberhentikan. Angkot, taksi,….tidak ada yang bersedia mengantarkan mereka. Akhirnya ada seorang yang berbaik hati membantu memapah tubuh Awan ke rumah sakit terdekat. Tentu saja rumah sakit terdekat dari tempat kejadian (UKI) adalah Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (RSFKUKI).

Menjenguk Awan

Hari Rabu 28 Juli 2010, aku berkesempatan menjenguk Awan. Aku dan tiga orang kawanku berangkat dari Bogor ke Jakarta dengan mengendarai sepeda motor. Aku membonceng Wiji (MNH 37), sedangkan Bombay (ITP 42) membonceng Hasan (FISIKA 42).

Dan memang benar yang diceritakan kawan-kawan. Kondisi awan sangat memprihatinkan. Beberapa selang terpasang di mulutnya, matanya bengkak menghitam, dan…ah…aku tak sanggup menatapnya lama-lama. Aku hanya bisa berdo’a semoga Awan segera diberi kesembuhan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Sempat membaik

Selama di ruang ICU kondisi awan tidak stabil. Kadang membaik, kadang drop lagi. Namun dia masih belum sadarkan diri.

Pernah suatu ketika ibunya berbisik di telinga Awan.

“Kalo Awan denger suara ibu, gerakin dong kakinya!”.

Awan pun menggerakkan kakinya sedikit. Setelah itu diam lagi.

Melihatnya terakhir kali

Hari Ahad 8 Agustus 2010, aku dan kawan-kawan (sekitar 20 orang) kembali menjenguk Awan. Saat masuk ke ruang ICU, aku melihat wajahnya sudah agak bersih. Menurut info yang aku dapat, luka-luka luar di tubuh Awan sudah membaik. Namun, awan masih tak sadarkan diri. Sebuah selang masih terpasang di mulutnya. Nafasnya berat. Kupegang tangannya, hangat. Kemudian aku bacakan surat Al-Fatihah sambil kupegang tangan Awan. Harapanku, bacaan al-fatihah-ku bisa meringankan sakit yang diderita Awan.

“Dan Kami turunkan Al-Qur’an yang merupakan obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra:82)

Ramadhan 1431 H

Tak terasa bulan Ramadhan kembali datang. Aku masih ingat, Ramadhan tahun lalu aku masih sempat berbuka puasa bersama Awan di masjid Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan akupun sempat menginap di kosan Awan dan makan sahur bersama. Namun sekarang…..oh ya, bagaimana kondisi Awan sekarang???

Berita terakhir yang kudapat, katanya kondisi Awan sempat membaik. Menurut berita yang kudapat, Awan sempat batuk, menangis, dan mata dan hidungnya bergerak-gerak. Kawan-kawan menduga, paru-paru Awan mulai membaik. Kami semua berharap Awan bisa kembali sehat.

Sehari sebelum puasa (Selasa 10 Agustus 2010) aku sempat menulis di facebook. Kutulis begini…

“Seorang sahabat masih terbaring koma di RSFKUKI…Sudah 2 minggu berlalu…Adik kelas TEP 44…Semoga Alloh member keputusan yang terbaik untuknya…”

Demikian tulisku.

Lalu, bertepatan dengan datangnya tamu agung, bulan yang mulia, bulan yang penuh berkah, bulan yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang dinantikan jutaan orang-orang yang beriman, selepas Maghrib di hari Selasa 10 Agustus 2010, Alloh memberi keputusan kepada Awan.

Aku mendapat SMS dari seorang kawan. SMS itu baru kubuka selepas sholat tarawih pertama di bulan Ramadhan tahun ini. Rupanya SMS itu sudah masuk sejak beberapa jam yang lalu. Begini bunyi SMS-nya…

“Bismillah. Hati kecilku akhirnya berkata benar, setelah tadi siang kupegang tangan & kakinya Awan dingin. Lalu kubisiki beberapa kali ke Awan agar memohon pilihan yang terbaik…Paru2 Awan tak kuat lagi, Takdir Alloh datang dan Awan akhirnya meninggal ba’da adzan maghrib malam tgl 1 Ramadhan 1431 H…”

Deg!

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun…

Aku tak menyangka….sungguh aku tak menyangka… Kawan-kawan pun banyak yang tak menduga. Ternyata Awan pergi begitu cepat. Padahal usianya masih sangat muda. Dan kami mengenal Awan sebagai orang yang sehat dan kuat. Dia terkenal pandai bela diri. Dan aku pernah mendengar, dia sempat berkeinginan jalan kaki dari rumahnya di Bekasi menuju Bogor. Sungguh luar biasa! Tapi….

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Alloh Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Munafiqun:11)

Memang, kematian adalah suatu hal yang pasti. Dan tak seorang pun tahu kapan waktu kematiannya tiba. Bisa sekarang, besok, lusa, atau … Yang jelas kematian pasti akan datang, cepat atau lambat. Jika memang sudah ajalnya, tak seorang pun bisa mengundurkannya.

Sungguh kematian bisa mendatangi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja. Tetapi juga orang –orang yang sehat wal afiat, orang dewasa, pemuda, bahkan sampai bayi yang masih menyusu di pangkuan ibunya.

***

Selamat jalan kawan…

Semoga musibah yang menimpamu bisa menjadi penghapus dosa-dosamu selama ini.

“Tidaklah musibah menimpa seorang Muslim melainkan (dengan musibah itu) Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya, hingga (musibah itu berupa) duri yang menusuknya sekalipun.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit atau yang sejenisnya, melainkan Alloh akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Muslim)

Kawan….

Sungguh kami semua merasa kehilanganmu.

“Sesungguhnya air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak berkata-kata melainkan dengan perkataan yang diridhoi Robb kami. Sesungguhnya dengan kepergianmu –wahai Awan…- sungguh membuat kami bersedih.”

Kawan…

Kepergianmu sungguh telah meninggalkan sebuah pelajaran berharga. Engkau telah menyadarkan kami bahwa kami memang harus senantiasa bersiap-siap. Sebab, tamu itu pasti akan datang cepat atau lambat. Tamu itu adalah tamu terakhir yang akan mendatangi setiap yang bernyawa. Dialah kematian…

“Ya Alloh, ampunilah dia, berikanlah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari siksa kubur), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran. Berikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berikanlah keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), isteri (atau suami) yang lebih baik daripada isteri (atau suami)nya, dan masukkanlah dia ke Surga, lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa Neraka.” (HR. Muslim dll.)

Wallohu a’lam bishshawab.

Alam Tirta Lestari

Sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan


MENULIS DENGAN CINTA

Juli 19, 2010

“Apakah penulis buku itu mau, jika ibunya diperlakukan layaknya binatang, begitu selesai disetubuhi, kemudian bisa dicampakkan begitu saja jika nggak cocok??? Apakah penulis buku itu rela terjadi hal yang seperti itu terhadap anak perempuannya, saudara perempuannya, dan orang-orang yang dicintainya???”.

Yang mendorong saya untuk menulis bab ini ialah pengalaman saya beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke sebuah toko buku yang terletak di daerah Blok-M. Barangkali lebih enak kalau saya ceritakan dari awal. Begini ceritanya ….

Kebiasaan Saya

Saya punya kebiasaan yang sampai saat ini masih tetap saya lakukan. Walaupun bukan sebuah kebiasaan yang luar biasa, tapi sulit untuk saya tinggalkan. Kebiasaan saya yaitu berkunjung ke toko buku paling nggak sekali dalam sebulan.

Your browser may not support display of this image. Entahlah, kenapa kok saya jadi suka main ke toko buku, ya? Awalnya sih, waktu SMU dulu, saya ke toko buku cuma ingin melihat kunci-kunci gitar yang ada di buku kumpulan lagu yang dilengkapi dengan kunci-kunci gitarnya. Karena dalam satu buku cuma ada satu-dua lagu yang saya suka, jadinya saya malas untuk membelinya. Saya lebih memilih untuk menghafalkannya. Lho, kenapa nggak dicatat saja? Pinginnya sih begitu. Tapi, takut dimarahin sama penjaga toko. Kawan saya saja pernah ada yang dimarahin. Satpam tokonya bilang begini ke kawan saya,”Mas, ini bukan perpustakaan!”.

Tapi itu dulu, waktu saya masih jahil. Sekarang alhamdulillah sudah nggak lagi. Sekarang, kalau saya ke toko buku, biasanya untuk mencari informasi dan ilmu baru. Kemudian, setelah menyenangi dunia tulis-menulis, selain mencari informasi dan ilmu baru, biasanya saya juga suka melakukan pengamatan kalau ke toko buku. Bukan ngamatin penjaga tokonya yang kebanyakan perempuan, tapi ngamatin buku-buku yang ada di sana. Buku apa aja yang best seller? Apa aja judul-judul buku yang menarik? Bagaimana gaya bahasa yang biasa digunakan oleh penulis buku yang best seller? Dst…dst…

Biasanya, kalau sudah main ke toko buku, saya jadi nggak inget waktu. Saya bisa betah berdiri berjam-jam di sana (tentunya dengan diselingi jongkok dan berjalan-jalan kecil). Kadang saya datang ketika toko buku baru dibuka (sekitar jam 10-an), kemudian pulang sore hari sekitar jam 5-an. Hampir 3-4 jam-an saya berada di toko buku. Bahkan, saya pernah ”nongkrong” di toko itu dari siang sampai malam.

Tapi, walaupun saya sering main ke toko buku, saya jarang membeli buku di sana (yah, ketahuan deh!). Habisnya, harga buku di sana banyak yang tidak bersahabat dengan isi kantong saya. Udah gitu tidak ada diskonnya lagi. Kadang-kadang saja saya beli buku di sana. Itupun kalau memang bukunya ingin sekali saya miliki dan kondisi kantong mendukung. Kalo nggak,  ya…mendingan saya baca aja sambil berdiri. Gratis, gitu lho!

Oya, toko buku yang biasa saya kunjungi namanya…mmm…perlu disebutin nggak ya? Kayaknya, nggak perlu disebutin juga banyak yang udah pada tahu. Sebab hampir di setiap kota di Indonesia ada toko buku ini. Toko buku yang sering saya kunjungi ini terletak di daerah Blok M. Tepatnya di sebelah kanan terminal. Kalau nggak salah dekat Pasar Raya. Lokasinya agak nyempil ke dalam. Untuk menuju ke sana harus melewati sebuah lorong yang dipenuhi para pedagang baju, sepatu, sendal, pakaian dalam, mie ayam, bakso, somay, minyak wangi, dll. Tokonya berlantai empat. Lantai satu untuk alat-alat kantor, lantai dua dan tiga untuk buku, dan lantai empat saya kurang tahu untuk apa. Mungkin untuk kantor kali.

Kalau dulu, waktu SMA, seringnya saya berkunjung ke toko buku yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah saya. Nama tokonya sama dengan yang di Blok M. Lokasinya di daerah Kreo Tangerang, tepatnya di Hero Kreo. Tapi sayang, tokonya hancur terbakar gara-gara kerusuhan Mei pada tahun 1998. Toko satunya lagi yang lokasinya berada di tengah-tengah antara rumah saya dengan SMA saya juga hancur. Jadi, toko buku yang menurut saya paling lengkap dan terdekat dari rumah saya, ya di blok M itu. Makanya saya jadi sering mainnya ke sana. Hingga suatu hari…….

Bertemu Buku Beracun

Ketika sedang melihat buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak buku, mata saya tertuju pada sebuah buku yang bentuk cover, judul, nama penulis dan penerbitnya saya lupa. Tapi yang saya nggak lupa sampai saat ini, muatan dari buku itu. Buku itu mengajarkan orang untuk berbuat zina. Nah, lho!

Buku itu berisi kisah fiktif tentang pengalaman malam pertama dari tiga pasangan pasutri. Pasangan pertama, pihak laki-lakinya sudah sering berzina sedangkan pihak wanitanya belum pernah. Pasangan kedua, pihak wanitanya sudah sering berzina, sedang pihak laki-lakinya belum pernah. Pasangan ketiga, kedua-duanya sudah sering berzina. Ketika masa pacaran, keduanya sudah berkali-kali melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Biasanya mereka lakukan di hotel.

Kemudian dikisahkan, dari ketiga pasangan pasutri ini, dua pasangan pertama mengalami kegagalan di malam pertama mereka. Sedangkan pasangan yang ketiga sukses melewati malam pertamanya dengan kebahagiaan. Bahkan digambarkan di buku itu, kebahagiaan yang mereka rasakan melebihi kebahagiaan sewaktu mereka berzina dahulu (ketika masa pacaran).

Kenapa mereka (pasangan ketiga) ini bisa sukses sedangkan dua pasangan lainnya nggak sukses? Sebabnya adalah, karena pasangan ketiga ini, sebelum nikah mereka sudah sering “penjajakan” sehingga ketika memasuki malam pertama, kedua belah fihak sudah tidak merasa canggung lagi. Berbeda dengan dua pasangan lainnya.

Intinya, lewat kisah rekaan yang dia buat, penulis ingin berpesan kepada para pembaca bukunya: KALAU INGIN SUKSES DAN BAHAGIA DI MALAM PERTAMA, SERING-SERINGLAH ZINA SEBELUM NIKAH! SERING-SERINGLAH MELAKUKAN PENJAJAKAN! SERING-SERINGLAH MELAKUKAN LATIHAN! Begitu kira-kira pesan yang dengan mudah bisa ditangkap dari bukunya itu.

Memang harus saya akui, penulis begitu piawai dalam mengolah kata-kata. Saya saja sampai “merinding” dibuatnya. Sayangnya, ketika menulis, penulis itu tidak mendasarinya dengan rasa cinta. Akibatnya, kata-kata yang keluar dari ujung penanya adalah kata-kata kotor yang merusak. Dan dia sendiri nggak sadar, bahwa tulisannya itu sebenarnya bisa membahayakan orang-orang yang dia cintai. Bahkan mungkin orang yang paling dia cintai dalam hidup ini, yaitu ibunya.

Lewat bukunya itu penulis telah memprovokasi banyak orang untuk melakukan free sex. Apakah penulis itu nggak mikir, gimana seandainya ada orang yang membaca bukunya kemudian orang itu terprovokasi, dan yang menjadi korban orang itu adalah ibu penulis sendiri, atau anak perempuannya, atau adik perempuannya, atau kakak perempuannya, atau…

Apakah penulis buku itu mau, jika ibunya diperlakukan layaknya binatang, begitu selesai disetubuhi, kemudian bisa dicampakkan begitu aja jika nggak cocok??? Apakah penulis buku itu rela terjadi hal yang seperti itu terhadap anak perempuannya, saudara perempuannya, dan orang-orang yang dicintainya???

Jika penulis buku itu masih normal, tentu dia nggak bakalan rela. Sebab, nggak bakalan ada orang normal yang rela ibunya dizinai. Nggak ada orang normal yang suka anak perempuannya dizinai. Nggak ada orang normal yang rela saudara perempuannya dizinai.

Saya jadi teringat dengan dialog yang terjadi antara Rasulullah dengan seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk diperbolehkan berzina.

Suatu ketika seorang pemuda datang kepada Rasul, lalu berkata,”Wahai Rasulullah, izinkanlah saya untuk berzina.” Orang-orang yang berada di situ pun membentak si pemuda ini,”Diam, sungguh lancang kamu!”.

Akan tetapi Nabi justru menyuruh pemuda ini untuk mendekat kepada beliau, kemudian terjadilah dialog antara beliau dengan pemuda ini.

Nabi mengajukan beberapa pertanyaan kepada pemuda itu:

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap ibumu ?”

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap anak perempuanmu ?”

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap saudara perempuanmu ?”

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap bibimu ?”

Setiap kali ditanya, pemuda itu selalu menjawab, Tidak, demi Allah ! Tiada seorang manusia pun yang suka bila hal itu dilakukan terhadap ibu/anak perempuan/saudara perempuan/bibi mereka.”

Kemudian, Nabi pun mendoakan pemuda ini:”Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.”

Jadi memang, nggak bakalan ada orang yang normal yang suka jika orang-orang yang dicintainya mendapat perlakukan yang nggak baik. Apalagi sampai dinodai kesuciannya.

***

Sayangnya, buku-buku semacam itu banyak terdapat di tengah-tengah kita. Kita bisa saksikan, buku-buku dengan gambar kover yang “syur” tersusun rapi di rak-rak buku. Sayangnya lagi, buku-buku semacam itu pula yang justru laris manis di pasaran. Seperti buku yang saya ceritakan di atas, ternyata buku itu best seller. Dalam waktu tidak terlalu lama, buku itu sudah cetak ulang. Entah yang keberapa, saya lupa. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sungguh ini sebuah musibah besar yang melanda ummat sekarang ini.

Menulis Dengan Ilmu Dan Cinta

Oleh karena itu, sudah saatnya kita banjiri masyarakat kita dengan buku-buku yang menebarkan nafas cinta. Yaitu buku-buku yang menebarkan rasa kasih sayang kepada sesama; buku-buku yang memberi manfaat kepada seluruh ummat; buku-yang membawa rahmat bagi manusia sejagat; buku-buku yang tidak merusak; buku-buku yang memberi manfaat dunia-akhirat. Agar dengan begitu, buku-buku tidak bermutu itu bisa tergusur dan tenggelam, dan kemudian mati seperti matinya kaum Nabi Nuh yang tidak mau naik ke atas bahtera keselamatan.

Penulis yang membuat tulisan dengan didasari rasa cinta, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dan membuat orang yang membacanya bahagia. Layaknya seorang ibu yang sangat mencintai buah hatinya, tentu dia ingin agar buah hatinya itu bahagia. Dan dia nggak akan mungkin melakukan sesuatu yang membuat darah dagingnya mendapat bahaya dan celaka. Segala sesuatu akan dilakukan agar si anak bisa merasakan hidup dengan enak.

Penulis yang membuat tulisan dengan didasari rasa cinta, ibarat petani yang menyirami benih yang ditanamnya dengan air yang menyegarkan. Kemudian benih-benih itupun tumbuh dengan sehatnya, menyembul ke atas permukaan bumi hingga akhirnya menjadi tanaman yang subur yang menghasilkan buah dengan lebatnya.

Berbeda dengan penulis yang membuat tulisan tanpa didasari rasa cinta. Dia ibarat orang yang merokok di tempat umum. Selain merugikan dirinya sendiri, dia juga telah merugikan orang lain. Sebab, dia telah menebarkan ribuan zat beracun lewat asap rokok yang dia hembuskan ke lingkungan sekitar. Bahkan dia bisa merugikan keluarganya sendiri yang secara tidak sengaja terpapar asap rokok ketika dia sedang merokok di dalam rumah rumah.

Maka, marilah kita menulis dengan cinta! Kita gerakkan pena dengan diiringi rasa cinta! Kita hembuskan aroma cinta dari ceceran-ceceran tinta! Setelah itu, kita persembahkan karya kita untuk orang-orang tercinta.  Selamat menulis dengan ilmu dan cinta!


NULIS BUKU ITU GAMPANG !!!

Juli 17, 2010

Saya paling seneng makan ketupat. Apalagi jika bikinan ibu saya. Kuahnya itu lho, kental. Bumbunya pun sangat terasa. Pokoknya nuikmaaat sekali. Apalagi jika ditambah dengan rendang daging plus kerupuk ikan. Mmm…Jadi ingat lebaran.

Ngomong-ngomong masalah ketupat, kamu bisa nggak nganyam daun kelapa jadi kulit ketupat? Sewaktu kecil, saya menganggap bikin kulit ketupat bukanlah pekerjaan yang gampang. Ribeut. Tapi, begitu saya tahu caranya karena sering memperhatikan orang tua saya menganyam kulit ketupat di akhir-akhir Ramadhan menjelang lebaran, saya jadi bisa membuatnya. Awalnya agak sulit dan sering gagal. Kalaupun jadi, hasilnya jelek nggak karuan. Tapi karena sering berlatih dan terus berlatih, akhirnya saya bisa juga. Ternyata, membuat kulit ketupat itu gampang!

Sama juga halnya dengan menulis buku. Jika kita tau caranya, tentu kita akan ngerasa kalo menulis buku itu ternyata gampang bin mudah alias nggak susah. Menulis buku nggak sesulit yang dibayangin. Saya sendiri telah membuktikannya. Gak percaya?!

***

Saya Ingin Menulis Buku

Dua tahun lalu, tepatnya bulan September 2007, saya resmi dirumahkan dari tempat kerja saya. Dirumahkan bukan maksudnya dikasih rumah. Kalo gitu sih enak. Dirumahkan maksudnya diii….. Ah, saya rasa kalian udah pada tau semua kan maksudnya? Setelah keluar, saya mencoba untuk menekuni kembali hobi lama saya. Hobi saya waktu itu menulis, tepatnya menulis artikel untuk dikirim ke media.

Hingga kini, belum banyak tulisan saya yang dimuat di media. Baru tiga artikel dimuat di kolom hikmah HU. Republika (salah satu artikel saya kemudian terpilih dalam buku kumpulan tulisan kolom hikmah bulan Maret – Desember 2006 yang diterbitkan oleh Penerbit Republika), satu artikel di HU. Pikiran Rakyat, dan belasan artikel saya dimuat di tiga majalah Islam: Majalah Remaja El-Fata, Majalah Islam Ar-Risalah, dan Majalah Keluarga Nikah. Jadi, belum terlalu banyak tulisan saya yang dimuat, walaupun puluhan artikel saya lainnya tersebar di beberapa bulletin yang diasuh oleh saya sendiri dan kawan-kawan saya.

Namun, sekarang saya ingin mencoba melangkah lebih jauh. Saya ingin menulis buku. Di samping saya ingin menyebarkan pengetahuan yang saya miliki selama ini (dan ini tujuan utama saya), saya ingin menjadikan menulis sebagai pekerjaan saya. Saya ingin mendapatkan penghasilan dari menulis buku.

Oya, inilah manfaat lain dari menulis buku yang pernah saya bilang tadi. Di samping menulis buku bisa dijadikan sebagai sarana untuk menyebarkan ilmu (memberi manfaat kepada masyarakat), menulis buku juga bisa dijadikan sarana untuk menghasilkan uang. Cukup banyak penulis yang telah menjadi kaya dengan menulis buku.

Kamu tentu sudah tau bahwa, jika buku kita diterbitkan oleh penerbit, kita akan dapet imbalan yang biasa disebut dengan istilah “royalti”. Masing-masing penerbit berbeda dalam menentukan persentase royalti untuk penulis. Ada yang 5 % dari harga buku di pasaran, ada yang 10% dari harga netto (harga buku di pasaran setelah dipotong 50%), ada yang 10% dari harga buku di pasaran, ada yang 15% dari harga netto, dll. Pokoknya setiap penerbit beda-beda dalam hal ini.

Anggap saja misalnya buku kita diterbitkan oleh penerbit dengan kesepakatan: royalti 10% dari harga pasar dan dibayarkan setiap 3 bulan sekali. Jika buku kita diberi harga Rp. 20.000 dan dicetak sebanyak 3000 eksemplar, kemudian dalam waktu 3 bulan terjual 2500 eksemplar, berarti royalti yang kita dapat sebesar: 20.000 x 2500 x 10% = 5.000.000 (Belum dipotong pajak kalo ada). Berarti kalau dirata-rata, pendapatan yang kita peroleh perbulan sebesar 1,5 juta lebih. Cukup lumayan, bukan?! (Ingat lho, ini baru penghasilan dari satu buku).

Jumlah royalti yang kita dapat akan bertambah jika buku kita dicetak dalam jumlah besar. Dan jumlahnya akan terus bertambah dan berlipat ganda jika buku karya kita bisa best seller, terjual ribuan bahkan jutaan eksemplar. Seperti misalnya buku motivasi karya Dale Carnegie yang berjudul How to Win Friends and Influence People. Buku ini, yang dalam edisi Indonesianya dihargai Rp.45.000, terjual lebih dari 15 juta eksemplar! Coba kamu bayangin, berapa besar kira-kira royalti yang bakalan dia dapet? Sungguh ruarrr biasa!

Di dalam negeri, kita juga mengenal cukup banyak penulis yang mendapatkan penghasilan besar dari hasil menulis buku. Misalnya aja Fauzil Adhim. Menurut pengakuannya pada HU. Republika (Jum’at 26 Agustus 2005), penulis yang biasa menulis buku-buku tentang keluarga dan pernikahan ini, dari bukunya yang berjudul ”Kupinang Engkau dengan Hamdalah” (tahun 2005 telah terjual 100.000 kopi) dia dapet royalti Rp. 15 juta sampai 25 juta perbulan. Ini baru dari satu buku. Padahal sejauh ini dia telah menghasilkan tidak kurang dari 23 judul buku yang juga menjadi buku laris di pasaran. Bayangkan sendiri, berapa uang yang dia dapet dari hasil menulis.

Atau, kita juga mengenal seorang penulis yang saat ini namanya sedang naik daun, Andrea Hirata. Katanya, lewat Laskar Pelangi-nya, ia berhasil mengantongi uang lebih dari 3,5 M! Dahsyat sekali, bukan?!

Akan tetapi, sekarang kita lupakan “sejenak” masalah uang royalti. Mari kita fokuskan diri dulu untuk belajar tentang bagaimana cara menulis buku. Masalah royalti akan kita bicarakan lagi kapan-kapan. Oke?!

Ternyata Gampang

Sebenarnya, sebelumnya (beberapa tahun lalu, kalau nggak salah sih sekitar tahun 2004) saya udah pernah menulis buku. Mungkin lebih tepatnya “nyusun” buku, karena buku itu hanya berisi tulisan orang lain yang saya susun menjadi sebuah buku. Jadi, saya cuma bikin kerangka karangan yang berisi judul-judul bab yang saya inginkan, kemudian isinya saya kutip dari beberapa buku yang udah ada. Ada dua buku yang berhasil saya susun.

Waktu itu saya belum terlalu tau tentang cara/teknik menulis buku, sehingga penggarapannya saya lakukan sekehendak saya. Saya tiru aja bentuk-bentuk buku yang sudah ada. Bagi saya waktu itu, yang penting ada judul, kata pengantar, daftar isi, isi, penutup, dan daftar pustaka. Kemudian naskah buku itu – yang setelah saya lihat-lihat lagi ternyata sangat “berantakan”mirip ketupat yang saya buat ketika baru pertama kali belajar membuat kulit ketupat- saya kirim lewat pos dengan diberi selembar surat pengantar dan sedikit biodata plus foto copy KTP. Namun hingga kini, saya nggak tau nasib kedua naskah buku saya itu. Keduanya hilang tak jelas rimbanya. Sepertinya kedua naskah saya itu nyemplung ke laut yang sangat dalam dan dimakan ikan hiu. Atau, mungkin juga udah dipake buat bungkus gorengan. Wallahu a’lam.

Hari berlalu dan tahun pun berganti. Pengetahuan saya tentang teknik menulis buku kian hari kian bertambah. Beberapa buku tentang kiat khusus menulis buku telah saya baca dan pelajari. Misalnya buku “Saya Bermimpi Menulis Buku” dan “Menjadi Powerful Da’i Dengan Menulis Buku”. Keduanya karya Bambang Trim. Saya juga mencari tambahan ilmu baru tentang menulis buku lewat artikel-artikel yang ada di intenet. Lewat internet, saya juga mendapat tambahan ilmu tentang menulis buku dari buku karya Mas Edy Zaqeus yang dipublikasikan di situs pembelajar.com. Judul bukunya “Jurus Jitu Menulis Buku Untuk Orang Sibuk”.

Dari membaca dan mempelajari sekian banyak teori menulis buku, saya jadi tau langkah-langkah dalam menulis buku agar menulis buku terasa mudah. Setelah langkah-langkah itu saya praktekkan, hasilnya cukup dahsyat. Dalam waktu 6 bulan, saya berhasil menulis 7 buah buku dengan rata-rata setiap buku terdiri dari 10.000-an kata. Dua buku yang saya tulis bahkan telah diterbitkan. Satunya diterbitkan oleh penerbit di Solo, sedangkan yang satunya oleh penerbit di Jakarta.

Nah, terbuktilah apa yang saya katakan di awal tadi. MENULIS BUKU ITU GAMPANG! Kalau kamu masih belom percaya juga kalo nulis buku itu gampang, saya sarankan untuk terus membaca buku ini sampai selesai. Oke ?!


Siapa Bilang Nulis Buku Susah ?!

Juni 13, 2010

Penulis

Muhammad Mujianto Abdul Jabbar

DAFTAR ISI

Sapa Penulis

Bab 1: Ngapain Sih Nulis Buku ?

Bab 2: Menulis Buku Itu Gampang Baca entri selengkapnya »


Menulis Itu Sehat

Juli 20, 2010

Oleh: Agung Praptapa

“Menulislah setiap hari maka kulitmu akan segar”, demikian dikatakan oleh Fatimah Mernissi, seorang penulis dan sosiolog wanita dari Maroko. Fatimah menambahkan bahwa menulis akan meningkatkan aktifitas sel. Menulis juga akan menjernihkan pikiran karena saat menulis pikiran kita akan terfokus pada tulisan tersebut sehingga kesempatan untuk berfikir tentang kegelisaan diri berkurang. Pikiran yang segar akan merangsang kesegaran kulit juga, demikian kurang lebih logikanya, sehingga menulis secara rutin akan membuat kulit menjadi segar. “Menulislah demi kecantikan kita” katanya. Fatimah yang seorang feminis ini bahkan menegaskan bahwa menulis lebih baik dari pada operasi pengencangan wajah maupun krim pelembab kulit.

Dr. James Pennebaker dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa menulis akan meningkatkan kekebalan tubuh (immune system). Pada tahun 1986 Pennebaker dan rekannya Sandra Beall mengadakan riset di University of Texas. Mereka ingin mengetahui seberapa jauh hubungan kegiatan menulis dengan kesehatan, dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan menulis mahasiswa. Mereka mengukur seberapa aktif mahasiswa menulis dan dihubungkan dengan seberapa sering mereka sakit, yang diukur dengan seberapa sering mereka berobat ke klinik. Dalam riset tersebut disimpulkan bahwa seseorang yang lebih sering menulis lebih jarang sakit. Dasar teori Pennebaker bermula dari pemikiran bahwa menulis akan mengurangi kegelisahan. Menulis akan membuat seseorang lebih tenang dan tidak cepat merasa lelah. Kegelisahan membutuhkan energi yang sangat banyak sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk membangun sistem kekebalan tubuh akan tersedot untuk memerangi kegelisahaan. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh tidak berjalan dengan sempurna. Dengan menulis, seseorang akan lebih tenang dan kegelisahan bisa teredam. Akibatnya, energi yang sedianya digunakan untuk meredam kegelisahan bisa terkumpul untuk membangun sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian, maka dengan menulis seseorang akan memiliki kekebalan tubuh yang semakin baik.

Pendapat dua tokoh tersebut cukup menegaskan hipotesis saya bahwa “menulis itu sehat”. Sehat jasmani maupun sehat rohani. Mengapa menulis itu menyehatkan? Bagaimana cara menulis yang menyehatkan? Mari kita bahas bersama sama di sini.

Mengapa Menulis Menyehatkan?
Saat menulis, perhatian kita mau tidak mau harus terfokus kepada menyusun kalimat demi kalimat. Setelah satu kalimat selesai kita susun, kita akan menyusun kalimat selanjutnya sehingga nantinya akan membentuk paragraf, dan akhirnya akan terbentuk suatu tulisan utuh. Lihat saja ada berapa keberhasilan yang kita peroleh? Menyelesaikan kalimat pertama berarti keberhasilan yang pertama. Menyelesaikan kalimat kedua berarti kita membuat lagi keberhasilan yang ke dua. Demikian seterusnya. Jadi menulis kalimat demi kalimat sama saja sedang mengumpulkan keberhasilan demi keberhasilan. Padahal, seseorang yang sering berhasil akan meningkat kepercayaan dirinya. Orang yang percaya diri akan lebih tenang, lebih pasti langkahnya, lebih tajam sorot matanya dan lebih cerah mukanya. Dengan kata lain, menulis akan memupuk kepercayaan diri. Kepercayaan diri akan menyehatkan jiwa seseorang, sehingga dapat kita katakan menulis itu menyehatkan.

Menulis akan mendorong kita untuk berkonsentrasi kepada topik. Saat kita menulis tentang ‘membangun kepercayaan diri’ misalnya, secara otomatis perhatian kita akan terfokus pada masalah diseputar bagaimana membangun kepercayaan diri. Karena perhatian kita terfokus kepada masalah ini, maka kita akan sejenak melupakan kegelisahan kita, kekecewaan kita, kemarahan kita dan hal-hal negatif lainnya yang kita paksa untuk “parkir” dulu karena kita sedang mendahulukan kepada masalah yang sedang menjadi perhatian kita, yaitu topik yang sedang kita tulis. Jadi dengan menulis kita tidak perlu lagi mencari obat penenang untuk meredam kegelisahan kita. Kegiatan menulis akan membawa kita ke keasyikan tersendiri, sehingga maaf, kegelisahan dan teman-temannya harus pergi dulu dari diri kita. Bisa saja kita bahkan melupakan kegelisahan kita. Nah, menulis menyehatkan bukan?

Menulis mendorong kita untuk selalu berfikir. Mau tidak mau kita harus berpikir “Apa lagi ya yang harus aku tulis setelah ini?”, “What’s next?”. Seperti halnya otot yang semakin dilatih akan semakin kuat, semakin kita berfikir otak kita juga akan semakin terlatih dan semakin kuat. Otak kita jadi sehat. Kita akan tidak cepat pikun. Jadi, kalau ingin tidak cepat pikun, kuncinya adalah jangan pernah malas berfikir. Biar tidak malas berfikir, menulislah. Mau gak cepat pikun? Menulislah!

Menulis sering dijadikan alat untuk mengungkapkan perasaan. Rasa marah, penyesalan, dendam, kegundahan dan perasaan negatif yang ada pada diri kita sering kita tumpahkan melalui tulisan. Dengan menumpahkan kepada suatu tulisan, kita pada prinsipnya mendapatkan teman berkomunikasi, yaitu diri kita sendiri dan calon pembaca yang kita tuju. Adanya saluran komunikasi ini akan memberikan jalan keluar dari tekanan perasaan negatif. Kalau kita ibaratkan perasaan negatif tersebut adalah air keruh yang ada dalam kantong plastik, kalau tidak kita salurkan maka kantong plastik tersebut bisa pecah dan air keruh tersebut akan mengotori batin kita. Dengan menulis, kita mendapatkan saluran pembuangan untuk membuang perasaan negatif tersebut keluar dari diri kita. Bahkan sering pula dengan menulis kita bahkan menemukan jalan keluar yang jitu, yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Nah, dengan demikian menulis akan membersihkan batin kita. Perasaan kita menjadi “plong”, sehat dan segar sehingga kita memiliki kesempatan untuk memikirkan dan melakukan hal-hal lain yang lebih sehat. Jadi, agar perasaan menjadi “plong”, menulislah.

Menulis Juga Menyembuhkan
Saya terkesima dengan sebuah tulisan yang menceritakan bagaimana seorang yang memiliki komplikasi lima penyakit bisa sembuh total dengan metoda penyembuhan yang ia yakini efektif, yaitu melalui menulis. Penderita penyakit tersebut adalah Gatut Susanta, seorang Insinyur Sipil, warga Bogor kelahiran Madiun. Pria yang saat itu berusia 43 tahun tersebut mengidap lima penyakit sekaligus yaitu hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah, penyempitan pembuluh otak, dan infeksi kandung kemih. Dalam wawancaranya dengan Media Indonesia (terbitan 24 Juli 2008) Gatut mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya sejak Februari 2005 tersebut sembuh total dengan metoda penyembuhan menulis setiap hari. Menurut Gatut, menulis membuatnya tenang, menerima dengan ihlas apa yang dialaminya, mensyukuri apa yang Ia dapatkan, dan memberikan semangat yang luar biasa untuk sembuh. Penyakit yang dideritanya akhirnya sembuh dan 15 buku berhasil Ia tulis.

Pengalaman Gatut tersebut membuat hipotesis saya bahwa “menulis itu sehat” lebih ditegaskan lagi bahwa bahkan menulis tersebut bisa menyembuhkan. Banyak penyakit fisik yang bermula dari masalah psikis seperti kegelisahan, kekuatiran, ketakutan, kebencian, dan masalah psikis lainnya. Menulis akan mengurangi bahkan dapat menyembuhkan penyakit psikis. Kejiwaan yang sehat akan mendorong sel-sel tubuh kita bekerja dengan baik. Antibodi kita akan bekerja dengan efektif sehingga badan kita juga akan menjadi sehat. Jadi, memang tidak berlebihan kalau menulis itu juga bisa menyembuhkan.

Terapi Menulis
Apabila kita sefaham bahwa “menulis itu menyehatkan”, atau bahkan “menulis itu menyembuhkan”, maka tidak berlebihan nampaknya kalau kita menulis demi kesehatan dan kesembuhan kita. Saya kira tidak berlebihan pula apabila menulis bisa dijadikan cara alternatif untuk pengobatan. Sehingga pada suatu saat mungkin akan muncul “terapi menulis”. Mau sehat? Mau sembuh dari penyakit yang Anda derita? Menulislah!

Agung Praptapa adalah seorang dosen, konsultan manajemen dan akuntansi, serta trainer di bidang pengembangan diri dan organisasi. Penulis buku “The Art of Controlling People” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, tahun 2009 ini aktif menulis setelah bergabung dengan Proaktif Shoolen Network. Sampai saat ini ia aktif menjadi pembicara di dalam negeri maupun di luar negeri. Email: praptapa@yahoo.com.


Menulis untuk Menyembuhkan

Juli 20, 2010

Jika Anda memiliki persoalan hidup yang pelik, menulis boleh jadi solusi yang perlu dicoba. Artinya, menulis dapat dijadikan kegiatan melakukan terapi diri, usaha menyembuhkan dari berbagai luka emosi atau sekadar mengatasi kecemasan yang overdosis.

Ada tips yang bisa dipraktikkan untuk itu. Pertama, temukan waktu dan tempat yang memungkinkan Anda tidak diganggu siapapun. Hal ini penting agar proses terapi tidak diganggu dengan interupsi.

Kedua, menulislah tanpa berhenti sedikitnya selama 20 menit. Biarkan semua yang terasa, terlihat, terdengar dari dalam diri muncul ke permukaan tanpa penilaian.

Ketiga, jangan pusingkan soal ejaan maupun tata bahasa. Anda tidak sedang menulis untuk publikasi tertentu. Anda tidak sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian bahasa Indonesia (atau bahasa lain yang Anda gunakan untuk menulis).

Keempat, menulislah hanya untuk diri sendiri. Ya, untuk diri sendiri. Seperti sedang menguraikan benang usut, menata serpihan-serpihan dari dalam diri sendiri. Bukan untuk diberitahukan kepada orang lain. Bukan untuk bahan pemikiran. Sekadar untuk melampiaskan, mengeluarkan, melepaskan, mengikhlaskan, memasrahkan.

Kelima, tulislah hal yang penting dan bersifat pribadi bagi anda. Jangan menyibukkan diri dengan hal-hal yang sepele, yang trivial, yang remeh temeh. Keluarkan yang benar-benar penting, yang benar-benar pribadi.

Keenam, hadapi kejadian dan peristiwa yang bisa anda atasi untuk saat ini. Untuk masalah-masalah yang mengingatnya saja bisa membuat Anda kehilangan kendali diri, singkirkan dulu. Tulis dan keluarkan apa yang sudah relatif bisa Anda atasi secara emosional.

Anda mau atau sudah pernah mencoba? Atau mungkin ada teman dan kerabat yang perlu kita sarankan untuk menyembuhkan luka-luka emosi dan batinnya dengan cara ini?

Andrias Harefa; Mindset Therapist; Penulis 35 Buku Best-Seller; Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun. www.andriasharefa.com


Tips Sederhana dalam Menulis

Juli 20, 2010

10 Jul 2005, 15:23 WIB – Kiat/Ilmu Penulisan
Tips Sederhana dalam Menulis

Penulis: syahid

Nyebur Dulu, Baru Berenang

Banyak orang yang ragu-ragu untuk memulai menulis. Ini tidak hanya dialami oleh para pemula, tapi juga dialami oleh penulis-penulis senior ketika mereka akan menulis lagi. Ketika akan menggoreskan beberapa kata di layar komputer, mereka ragu tulisannya nggak enak dibaca atau jelek dan sebagainya. Biasanya mereka duduk bengong di depan komputer tapi tidak satu kalimat pun dituliskannya.

Keadaan ini pun sering saya alami. Tapi biasanya keadaan ini saya dobrak saja. Artinya saya paksakan saja untuk menulis. Biasanya saya alami ketika dikejar-kejar Penerbit dan dikasih jatah waktu sekian hari untuk menyelesaikannya.

Hasilnya memang pada halaman-halaman pertama biasanya kualitasnya jelek. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Suasana hati pun akan terbangun. Emosi kita pun terhanyut dalam tulisan-tulisan yang kita buat. Jadilah kita asyik berwara-wiri dengan tulisan kita. Dan jika sudah sampai dalam keadaan seperti ini, jangan harap deh kita bisa diganggu dengan kegiatan-kegiatan lain. Bahkan kita akan kuat duduk berjam-jam di depan komputer dalam waktu yang lama.

Dan keadaan ini pernah saya alami. Saya pernah tidak tidur semalaman hanya untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan, bukan karena tulisan itu sangat mendesak. Tapi lebih karena keasyikan menulis tersebut. Dan jika keadaan tersebut dipotong dengan kegitan lain, apalagi kegiatannya sangat menyita pikiran, biasanya sangat sulit untuk membangun kembali suasana yang telah muncul tersebut.

Berani Gagal

Banyak juga orang yang takut tulisannya ditolak oleh media. Sehingga tulisan-tulisan yang mereka hasilkan hanya numpuk di kamar mereka saja. Mereka takut tulisannya dibaca orang, apalagi jika sampai dikritik.

Billi PS Liem dalam bukunya yang super laris Dare to Fail mengkritisi hal ini walau tidak secara explisit. Banyak orang di dunia ini yang tidak berani melakukan sesuatu. Mereka takut gagal. Jika mereka menulis, mereka takut tulisannnya jelek dan dihina orang. Atau jika mereka mengirimkannnya ke media, mereka takut tulisannya ditolak. Atau juga ketika tulisannya telah dikirim ke media dan ditolak, mereka lantas menyerah dan mencap dirinya “Tidak Berbakat Menulis”.

Padahal semua orang sukses yang ada di dunia ini rata-rata pernah gagal. Bill Gates yang merupakan orang terkaya di dunia versi Majalah Forbes (konon kekayaan bersihnya mencapai Rp 419,4 Trilyun, sekitar 4 x lipat APBN Indonesia) pernah berkata “Banyak orang hanya melihat keberhasilan saya. Padahal keberhasilan saya itu hanyalah 10 persen dari hidup saya. 90 persennya adalah kegagalan saya.”

Yup, kegagalan merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan untuk meraih sebuah gelar bernama “sukses”. Ibaratnya SKS yang harus diambil jika kita ingin lulus kuliah. Semua orang mengakui bahwa Anggeliqe Wijaya (Juara Tenis Dunia Wibledon Junior) mempunyai smash sangat kuat dan akurat. Tapi dibalik smash tajamnya itu adalah ribuan smash-smash yang nyangkut di net atau keluar lapangan ketika latihan. Atau juga Thomas Alfa Edison yang telah menemukan lebih dari 100 alat yang sangat bermanfaat bagi manusia sekarang ini. Salah satu penemuannya adalah lampu bohlan. Dan dalam experimennya menemukan lampu bohlan tersebut, Kang Edi (begitu sapaan akrab Edison seandainya masih hidup dan ada di hadapan saya) mencoba 2000 kawat. Dan ternyata kawat yang ke 2000-lah yang ternyata bisa menghantarkan listrik dan berpijar. Coba bayangkan, seandainya Kang Edi menghentikan percobaan pada langkah ke 1999, mungkin kehidupan yang terang benderang ini tidak akan pernah ada. Mungkin.

Lalu bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih takut untuk menulis dan mengirimkannya ke media? Jika sudah, berapa yang ditolak? Satu, dua, atau tiga karya? Dan apakah kamu masih menganggap kamu ‘tidak berbakat’ ketika tulisannmu ditolak? Pasti tidak kan?

Saya pribadi pernah mengirimkan karya hampir lima belas kali ke media. Semuanya ditolak. Baru kira-kira yang keenam belas kalinya dimuat. Saya juga pernah tiga kali mengikuti perlombaan kepenulisan, dan selalu kalah. Baru yang keempat kalinya menjadi Juara.

So, keep fight! Jangan mudah menyerah.

Tiga cara untuk menjadi Penulis : Menulis, Menulis, dan Menulis

Penulis Amerika Getrude Stein mendefinisikan arti menulis dengan menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah…, dan seterusnya. Kuntowijoyo pernah berkata bahwa hanya ada tiga cara untuk menjadi penulis, yaitu menulis, menulis, dan menulis. Helvy Tiana Rosa pernah berkata bahwa yang mutlak dilakukan oleh seorang penulis adalah banyak membaca dan kemudian [latihan] menulis.

Ya, tidak ada jalan singkat untuk menjadi penulis kecuali menulis. Menulis untuk yang ke-satu adalah bangku kuliah untuk kemudian teori-teori yang didapatkannya dipraktekkan pada menulis yang ke-dua. Menulis yang kedua adalah bangku kuliah yang teori yang didapatkannya dipratkekkan pada menulis ketiga. Begitu seterusnya.

Pikiran Bawah Sadar: Sumber Kreativitas

Yang biasa saya lakukan sebelum memulai menulis adalah berbaring di kasur, kemudian membiarkan pikiran ini mengembara dengan sendirinya tanpa dikendalikan dan kemudian ide-ide kepenulisan itu datang mengalir. Kok bisa sih?

Ya, kegiatan inilah yang biasanya dinamakan dengan menggali Pikiran Bawah Sadar. Dalam buku Piece of Mind, penulisnya mengatakan bahwa Pikiran Bawah Sadar adalah sejumlah memori yang mengendap dan mengkristal dalam jaringan otak yang paling dalam.

Pikiran-pikiran di pikiran bawah sadar ini akan mengalir ke dalam otak sadar kita kalo kita memanggilnya. Pikiran-pikiran ini hadir dalam benak kita berupa ide-ide cemerlang tentang sesuatu, kreativitas, alur cerita, dan banyak lagi.

Intuisi dan Revisi : alat pengontrol kualitas

Jangan pernah ragu untuk menulis karena kita tidak punya teori. Sebagian besar penulis menulis tidak dengan teori. Bahkan penulis novel LUPUS dan OLGA, Hilman Hariwijaya berkata: “Kalau anda mau menulis, ya menulis saja. Tak perlu terpaku pada kaidah-kaidah atau teori-teori. Setelah jadi, biar para pemikir dan kritikus yang mencarikan teori apa yang kamu pakai.”

Ada juga pendapat lain dari William Forrester. Beliau berkata “Menulislah—pada saat awal—dengan hati. Setelah itu, perbaiki tulisan kamu dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berfikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang Anda rasakan.”

Saya sepakat dengan kedua penulis senior ini. Jika mau menulis, ya menulis saja. Jangan pikirkan teori. Saya pribadi memang termasuk orang yang membaca teori. Ada sekita 6 buku teori kepenulisan yang pernah saya baca. Tapi pada saat menulis, teori-teori itu serasa terbang entah kemana. Jarang saya pakai.

Bagus tidaknya tulisan kita, justru bisa kita rasakan oleh kita sendiri. Istilah kerennya mungkin Intuisi. Biasanya saya tidak peduli dengan apapun saat nulis untuk versi pertama. Baru setelah itu saya baca ulang. Di sinilah intuisi bermain. Merasakan apakah tulisan saya ini enak dibaca atau tidak. Jika ada sesuatu yang tidak sreg, saya akan men-delete-nya dan menggantikan kalimat yang kurang bagus tadi dengan kalimat yang lebih canggih. Kegiatan itu terus saya lakukan berkali-kali. Kegiatan inilah yang dinamakan dengan Revisi. Saya tidak akan mengirimkan ke media sampai saya merevisinya berulang kali dan tidak ada kejanggalan lagi dalam tulisan saya. Bahkan jika untuk sebuah perlombaan, revisi pada tulisan tersebut saya lakukan sampai 25 kali.

Oke, selamat menulis ya…!

Tulisan ini disampaikan dalam acara Pesantren Liburan Mahasiswa XVII Se-Jawa Barat dan Banten DKM UNPAD di Islamic Centre Sumedang, Rabu 22 Juni 2005


Buku Bagus

Juli 13, 2010


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.