MENULIS DENGAN CINTA

“Apakah penulis buku itu mau, jika ibunya diperlakukan layaknya binatang, begitu selesai disetubuhi, kemudian bisa dicampakkan begitu saja jika nggak cocok??? Apakah penulis buku itu rela terjadi hal yang seperti itu terhadap anak perempuannya, saudara perempuannya, dan orang-orang yang dicintainya???”.

Yang mendorong saya untuk menulis bab ini ialah pengalaman saya beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke sebuah toko buku yang terletak di daerah Blok-M. Barangkali lebih enak kalau saya ceritakan dari awal. Begini ceritanya ….

Kebiasaan Saya

Saya punya kebiasaan yang sampai saat ini masih tetap saya lakukan. Walaupun bukan sebuah kebiasaan yang luar biasa, tapi sulit untuk saya tinggalkan. Kebiasaan saya yaitu berkunjung ke toko buku paling nggak sekali dalam sebulan.

Your browser may not support display of this image. Entahlah, kenapa kok saya jadi suka main ke toko buku, ya? Awalnya sih, waktu SMU dulu, saya ke toko buku cuma ingin melihat kunci-kunci gitar yang ada di buku kumpulan lagu yang dilengkapi dengan kunci-kunci gitarnya. Karena dalam satu buku cuma ada satu-dua lagu yang saya suka, jadinya saya malas untuk membelinya. Saya lebih memilih untuk menghafalkannya. Lho, kenapa nggak dicatat saja? Pinginnya sih begitu. Tapi, takut dimarahin sama penjaga toko. Kawan saya saja pernah ada yang dimarahin. Satpam tokonya bilang begini ke kawan saya,”Mas, ini bukan perpustakaan!”.

Tapi itu dulu, waktu saya masih jahil. Sekarang alhamdulillah sudah nggak lagi. Sekarang, kalau saya ke toko buku, biasanya untuk mencari informasi dan ilmu baru. Kemudian, setelah menyenangi dunia tulis-menulis, selain mencari informasi dan ilmu baru, biasanya saya juga suka melakukan pengamatan kalau ke toko buku. Bukan ngamatin penjaga tokonya yang kebanyakan perempuan, tapi ngamatin buku-buku yang ada di sana. Buku apa aja yang best seller? Apa aja judul-judul buku yang menarik? Bagaimana gaya bahasa yang biasa digunakan oleh penulis buku yang best seller? Dst…dst…

Biasanya, kalau sudah main ke toko buku, saya jadi nggak inget waktu. Saya bisa betah berdiri berjam-jam di sana (tentunya dengan diselingi jongkok dan berjalan-jalan kecil). Kadang saya datang ketika toko buku baru dibuka (sekitar jam 10-an), kemudian pulang sore hari sekitar jam 5-an. Hampir 3-4 jam-an saya berada di toko buku. Bahkan, saya pernah ”nongkrong” di toko itu dari siang sampai malam.

Tapi, walaupun saya sering main ke toko buku, saya jarang membeli buku di sana (yah, ketahuan deh!). Habisnya, harga buku di sana banyak yang tidak bersahabat dengan isi kantong saya. Udah gitu tidak ada diskonnya lagi. Kadang-kadang saja saya beli buku di sana. Itupun kalau memang bukunya ingin sekali saya miliki dan kondisi kantong mendukung. Kalo nggak,  ya…mendingan saya baca aja sambil berdiri. Gratis, gitu lho!

Oya, toko buku yang biasa saya kunjungi namanya…mmm…perlu disebutin nggak ya? Kayaknya, nggak perlu disebutin juga banyak yang udah pada tahu. Sebab hampir di setiap kota di Indonesia ada toko buku ini. Toko buku yang sering saya kunjungi ini terletak di daerah Blok M. Tepatnya di sebelah kanan terminal. Kalau nggak salah dekat Pasar Raya. Lokasinya agak nyempil ke dalam. Untuk menuju ke sana harus melewati sebuah lorong yang dipenuhi para pedagang baju, sepatu, sendal, pakaian dalam, mie ayam, bakso, somay, minyak wangi, dll. Tokonya berlantai empat. Lantai satu untuk alat-alat kantor, lantai dua dan tiga untuk buku, dan lantai empat saya kurang tahu untuk apa. Mungkin untuk kantor kali.

Kalau dulu, waktu SMA, seringnya saya berkunjung ke toko buku yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah saya. Nama tokonya sama dengan yang di Blok M. Lokasinya di daerah Kreo Tangerang, tepatnya di Hero Kreo. Tapi sayang, tokonya hancur terbakar gara-gara kerusuhan Mei pada tahun 1998. Toko satunya lagi yang lokasinya berada di tengah-tengah antara rumah saya dengan SMA saya juga hancur. Jadi, toko buku yang menurut saya paling lengkap dan terdekat dari rumah saya, ya di blok M itu. Makanya saya jadi sering mainnya ke sana. Hingga suatu hari…….

Bertemu Buku Beracun

Ketika sedang melihat buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak buku, mata saya tertuju pada sebuah buku yang bentuk cover, judul, nama penulis dan penerbitnya saya lupa. Tapi yang saya nggak lupa sampai saat ini, muatan dari buku itu. Buku itu mengajarkan orang untuk berbuat zina. Nah, lho!

Buku itu berisi kisah fiktif tentang pengalaman malam pertama dari tiga pasangan pasutri. Pasangan pertama, pihak laki-lakinya sudah sering berzina sedangkan pihak wanitanya belum pernah. Pasangan kedua, pihak wanitanya sudah sering berzina, sedang pihak laki-lakinya belum pernah. Pasangan ketiga, kedua-duanya sudah sering berzina. Ketika masa pacaran, keduanya sudah berkali-kali melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Biasanya mereka lakukan di hotel.

Kemudian dikisahkan, dari ketiga pasangan pasutri ini, dua pasangan pertama mengalami kegagalan di malam pertama mereka. Sedangkan pasangan yang ketiga sukses melewati malam pertamanya dengan kebahagiaan. Bahkan digambarkan di buku itu, kebahagiaan yang mereka rasakan melebihi kebahagiaan sewaktu mereka berzina dahulu (ketika masa pacaran).

Kenapa mereka (pasangan ketiga) ini bisa sukses sedangkan dua pasangan lainnya nggak sukses? Sebabnya adalah, karena pasangan ketiga ini, sebelum nikah mereka sudah sering “penjajakan” sehingga ketika memasuki malam pertama, kedua belah fihak sudah tidak merasa canggung lagi. Berbeda dengan dua pasangan lainnya.

Intinya, lewat kisah rekaan yang dia buat, penulis ingin berpesan kepada para pembaca bukunya: KALAU INGIN SUKSES DAN BAHAGIA DI MALAM PERTAMA, SERING-SERINGLAH ZINA SEBELUM NIKAH! SERING-SERINGLAH MELAKUKAN PENJAJAKAN! SERING-SERINGLAH MELAKUKAN LATIHAN! Begitu kira-kira pesan yang dengan mudah bisa ditangkap dari bukunya itu.

Memang harus saya akui, penulis begitu piawai dalam mengolah kata-kata. Saya saja sampai “merinding” dibuatnya. Sayangnya, ketika menulis, penulis itu tidak mendasarinya dengan rasa cinta. Akibatnya, kata-kata yang keluar dari ujung penanya adalah kata-kata kotor yang merusak. Dan dia sendiri nggak sadar, bahwa tulisannya itu sebenarnya bisa membahayakan orang-orang yang dia cintai. Bahkan mungkin orang yang paling dia cintai dalam hidup ini, yaitu ibunya.

Lewat bukunya itu penulis telah memprovokasi banyak orang untuk melakukan free sex. Apakah penulis itu nggak mikir, gimana seandainya ada orang yang membaca bukunya kemudian orang itu terprovokasi, dan yang menjadi korban orang itu adalah ibu penulis sendiri, atau anak perempuannya, atau adik perempuannya, atau kakak perempuannya, atau…

Apakah penulis buku itu mau, jika ibunya diperlakukan layaknya binatang, begitu selesai disetubuhi, kemudian bisa dicampakkan begitu aja jika nggak cocok??? Apakah penulis buku itu rela terjadi hal yang seperti itu terhadap anak perempuannya, saudara perempuannya, dan orang-orang yang dicintainya???

Jika penulis buku itu masih normal, tentu dia nggak bakalan rela. Sebab, nggak bakalan ada orang normal yang rela ibunya dizinai. Nggak ada orang normal yang suka anak perempuannya dizinai. Nggak ada orang normal yang rela saudara perempuannya dizinai.

Saya jadi teringat dengan dialog yang terjadi antara Rasulullah dengan seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk diperbolehkan berzina.

Suatu ketika seorang pemuda datang kepada Rasul, lalu berkata,”Wahai Rasulullah, izinkanlah saya untuk berzina.” Orang-orang yang berada di situ pun membentak si pemuda ini,”Diam, sungguh lancang kamu!”.

Akan tetapi Nabi justru menyuruh pemuda ini untuk mendekat kepada beliau, kemudian terjadilah dialog antara beliau dengan pemuda ini.

Nabi mengajukan beberapa pertanyaan kepada pemuda itu:

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap ibumu ?”

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap anak perempuanmu ?”

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap saudara perempuanmu ?”

“Apakah kamu suka bila hal itu dilakukan terhadap bibimu ?”

Setiap kali ditanya, pemuda itu selalu menjawab, Tidak, demi Allah ! Tiada seorang manusia pun yang suka bila hal itu dilakukan terhadap ibu/anak perempuan/saudara perempuan/bibi mereka.”

Kemudian, Nabi pun mendoakan pemuda ini:”Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.”

Jadi memang, nggak bakalan ada orang yang normal yang suka jika orang-orang yang dicintainya mendapat perlakukan yang nggak baik. Apalagi sampai dinodai kesuciannya.

***

Sayangnya, buku-buku semacam itu banyak terdapat di tengah-tengah kita. Kita bisa saksikan, buku-buku dengan gambar kover yang “syur” tersusun rapi di rak-rak buku. Sayangnya lagi, buku-buku semacam itu pula yang justru laris manis di pasaran. Seperti buku yang saya ceritakan di atas, ternyata buku itu best seller. Dalam waktu tidak terlalu lama, buku itu sudah cetak ulang. Entah yang keberapa, saya lupa. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Sungguh ini sebuah musibah besar yang melanda ummat sekarang ini.

Menulis Dengan Ilmu Dan Cinta

Oleh karena itu, sudah saatnya kita banjiri masyarakat kita dengan buku-buku yang menebarkan nafas cinta. Yaitu buku-buku yang menebarkan rasa kasih sayang kepada sesama; buku-buku yang memberi manfaat kepada seluruh ummat; buku-yang membawa rahmat bagi manusia sejagat; buku-buku yang tidak merusak; buku-buku yang memberi manfaat dunia-akhirat. Agar dengan begitu, buku-buku tidak bermutu itu bisa tergusur dan tenggelam, dan kemudian mati seperti matinya kaum Nabi Nuh yang tidak mau naik ke atas bahtera keselamatan.

Penulis yang membuat tulisan dengan didasari rasa cinta, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dan membuat orang yang membacanya bahagia. Layaknya seorang ibu yang sangat mencintai buah hatinya, tentu dia ingin agar buah hatinya itu bahagia. Dan dia nggak akan mungkin melakukan sesuatu yang membuat darah dagingnya mendapat bahaya dan celaka. Segala sesuatu akan dilakukan agar si anak bisa merasakan hidup dengan enak.

Penulis yang membuat tulisan dengan didasari rasa cinta, ibarat petani yang menyirami benih yang ditanamnya dengan air yang menyegarkan. Kemudian benih-benih itupun tumbuh dengan sehatnya, menyembul ke atas permukaan bumi hingga akhirnya menjadi tanaman yang subur yang menghasilkan buah dengan lebatnya.

Berbeda dengan penulis yang membuat tulisan tanpa didasari rasa cinta. Dia ibarat orang yang merokok di tempat umum. Selain merugikan dirinya sendiri, dia juga telah merugikan orang lain. Sebab, dia telah menebarkan ribuan zat beracun lewat asap rokok yang dia hembuskan ke lingkungan sekitar. Bahkan dia bisa merugikan keluarganya sendiri yang secara tidak sengaja terpapar asap rokok ketika dia sedang merokok di dalam rumah rumah.

Maka, marilah kita menulis dengan cinta! Kita gerakkan pena dengan diiringi rasa cinta! Kita hembuskan aroma cinta dari ceceran-ceceran tinta! Setelah itu, kita persembahkan karya kita untuk orang-orang tercinta.  Selamat menulis dengan ilmu dan cinta!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.