“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)
“Nama antum siapa?”
“Bang…”, demikian dia biasa memanggilku. Jika kami bertemu & kami berdua sedang dalam posisi berdiri, diapun langsung memelukku. Sepertinya kami sudah sangat akrab. Padahal belum terlalu lama aku mengenalnya.
Entahlah, aku sendiri kini sudah lupa, kapan kira-kira pertama kali berjumpa dengannya. Mmm…kalau tidak salah, saat aku mengajar bahasa Arab di sebuah musholla. Pesertanya semua mahasiswa, lebih tepatnya mahasiswa IPB. Rata-rata sudah tingkat akhir dan sedang melakukan penelitian. Oh tidak, sepertinya ada satu orang yang sudah alumni. Namanya Indra wijiadi, MNH 37. Dan pernah ikut pula seorang alumni UGM yang sedang mengambil S2 di IPB. Namanya aku lupa. Yang aku ingat, dia masuk UGM tahun 1998.
“Awan”, jawabnya.
Mendengar namanya pikiranku langsung melayang ke atas. Sebab, namanya sama dengan benda yang biasa kita lihat melayang-layang di angkasa. Akupun spontan berkata, “As-samaa…”, sambil tanganku menunjuk ke langit. “As-samaa” dalam bahasa Indonesia artinya “langit”. Yang hadirpun tertawa.
Baru di kemudian hari aku mengetahui kalau nama lengkapnya Muhammad Rasyid Setiawan. Dan di kemudian hari pula aku baru mengetahui kalau dia ternyata kuliah di sebuah jurusan yang pernah aku masuki sekitar 12 tahun yang lalu. Jadi kami kuliah di jurusan yang sama. Berarti dia adik kelasku satu jurusan.
Dia adalah guruku
Tidak terlalu sering aku berjumpa dan berinteraksi dengannya. Bahkan bisa dibilang jarang sekali. Sebab kita punya kesibukan yang berbeda. Dia sibuk dengan dunianya, dan aku pun sibuk dengan duniaku. Namun, ada satu kenangan yang takkan mungkin aku lupakan. Dialah orang yang mengajariku cara bekam. Anda tahu kan bekam itu apa? Bekam itu adalah metode pengobatan dengan cara melakukan menyayatan dan penyedotan darah kotor dari dalam tubuh. Demikian kira-kira pengertian mudahnya.
Ceritanya begini…
Suatu hari Faiz (TPT 40) merasakan badannya kurang enak. Biasanya, kalau sudah dibekam dia merasa badannya lebih enakan. Maka diapun minta tolong Awan untuk membekamnya. Awan menyanggupi. Dan memang Awan terkenal jago bekam.
Sekitar pukul 9 siang kami berdua (aku dan Faiz) berangkat dari Ciomas menuju Darmaga. Kami berdua tinggal di Ciomas, sedangkan Awan kos di Darmaga.
Awalnya aku tidak ada niat untuk langsung melakukan praktek bekam. Aku cuma ingin melihat bagaimana caranya melakukan bekam. Tapi, ketika aku lihat caranya sangat mudah, akupun tertarik untuk langsung mencobanya.
Waktu itu, bisa dibilang justru aku yang malah membekam Faiz. Awan cuma memberi contoh sekali. Setelah itu aku yang melakukan penusukan dan penyedotan darah kotor. Awan cuma melihat saja sambil sesekali memberi penjelasan. Kira-kira satu jam lebih kami melakukan pembekaman.
Semoga ilmu bekam yang diajarkan Awan kepadaku (dan kepada teman-teman yang lain) bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir kepadanya. Amiin…
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Ingin mengembara
Awan pernah bercerita kepadaku bahawa dahulu dia sempat punya keinginan untuk mengembara. Dia ingin keliling Indonesia. Untuk biaya hidup akan dia dapatkan dari upah membekam orang. Namun keinginannya itu dia urungkan karena mengetahui kalau upah bekam itu khobits (kotor).
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Hasil kerja juru bekam adalah kotor.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Walaupun bukan suatu yang haram, tapi sepertinya Awan tidak ingin makanan yang masuk ke tubuhnya berasal dari harta yang khobits.
Subhanalloh!! Sungguh suatu sikap yang patut ditiru. Sebab zaman sekarang banyak orang yang tidak peduli lagi dengan masalah ini. Mereka tidak peduli, apakah harta yang diperolehnya itu berasal dari yang halal atau yang haram. Dan fenomena ini memang merupakan tanda dari sekian banyak tanda akan dekatnya hari kiamat.
Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan datang suatu zaman atas ummat manusia yang mana waktu itu mereka tidak lagi peduli dengan cara apa mendapatkan harta. Dengan cara yang halal ataukah dengan cara yang haram.” (HR. Al-Bukhori)
Akhirnya dia memutuskan untuk kuliah. Dan masuklah dia di jurusan Teknik Pertanian (TEP). Entah apa alasan dia masuk jurusan ini. Apakah alasannya sama denganku yang mengira di jurusan ini aku akan diajari cara bercocok tanam, seperti cara bercocok tanam mangga, pepaya…….dll. Atau memang dia tahu Teknik Pertanian itu maksudnya Mekanisasi Pertanian. Jadi pelajaran yang diberikan seputar alat dan mesin yang digunakan dalam bidang pertanian. Entahlah…
Ingin keluar
“Ane pusing bang….”, demikian kira-kira curhatnya kepadaku di suatu ketika. “Ane nggak bisa hitung-hitungan. Nilai ane jelek-jelek.”
Memang, di jurusan TEP cukup banyak pelajaran hitung-hitungan. Seingatku, setiap semester tidak pernah sepi dari pelajaran hitung-hitungan. Misalnya saja Kalkulus 2, Matematika Teknik, TPP, Kekuatan Bahan, ….dll. Bagi orang yang lemah atau tidak suka hitung-hitungan tentu akan merasa tersiksa. Dan mungkin inilah yang dirasakan oleh Awan. Hingga akhirnya dia sempat bilang kepadaku kalau dia ingin keluar kuliah!
Awan pernah menyatakan keinginannya ini kepada kedua orangtuanya. Ibunya tidak keberatan jika itu memang yang dianggap baik bagi si Awan. Namun ayahnya tetap bersikeras agar Awan menyelesaikan kuliahnya. Ayahnya ingin kelak Awan bekerja di tempat yang layak. Intinya, ayahnya tidak mengijinkan Awan keluar kuliah.
Akhirnya, demi untuk menuruti kemauan orang tua dan untuk birrul walidain, Awan pun tetap melanjutkan kuliah meskipun harus dijalani dengan susah payah. Sebab, banyak pelajaran yang harus dia ulang. Namun dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh, akhirnya awan bisa melewati satu tahun kuliah dengan prestasi yang lebih baik dari setahun sebelumnya.
Saat liburan panjang, terjadilah peristiwa itu.
Pada sebuah siang
Hari Senin 26 Juli 2010. Tersiar kabar Awan mengalami kecelakaan. Dia terjatuh dari sepeda motor. Saat itu (26 Juli) dia terbaring tak sadarkan diri di Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (RSFKUKI).
Siang itu Awan dan Yusuf (ITP 44, kawan dekat Awan) naik sepeda motor dari rumah Awan di Bekasi menuju Bogor. Yusuf yang mengendarai motor sedangkan Awan membonceng dibelakang sambil membawa tabung gas 3 kg di pangkuannya.
Ketika sampai di daerah UKI, terjadilah apa yang terjadi. Mereka berdua terjatuh dari sepeda motor.
Keesokan harinya (Selasa 27 Juli 2010) beberapa orang kawan pergi menjenguk Awan di rumah sakit. Ada dua orang dari Darmaga, Frendy (ITP 43) dan Caesar (FISIKA 46). Frendy adalah teman sekosan awan.
Menurut cerita Frendy, kondisi awan sangat memprihatinkan. Rahangnya patah dan paru-parunya terluka cukup parah. Untuk bernafas dibutuhkan alat bantu. Sepertinya bagian depan tubuh awan terbentur hebat dengan benda keras. Namun tidak jelas kronologis kejadian yang sebenarnya seperti apa. Orang-orang yang berada di tempat terjadinya kecelakaan tidak ada yang mau bercerita. Mereka takut menjadi saksi. Mereka saling tunjuk satu dengan yang lain. Mereka hanya menonton saja.
Yusuf pun tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa. Dia sempat tak sadar sesaat. Begitu sadar, di sekelilingnya banyak orang berkerumun. Awan masih tergeletak dengan hidung mengeluarkan darah. Awan mengerang kesakitan. Namun tak seorang pun yang menolong mereka.
Yusuf berusaha mencari kendaraan untuk membawa Awan ke rumah sakit. Namun tak satupun kendaraan yang mau diberhentikan. Angkot, taksi,….tidak ada yang bersedia mengantarkan mereka. Akhirnya ada seorang yang berbaik hati membantu memapah tubuh Awan ke rumah sakit terdekat. Tentu saja rumah sakit terdekat dari tempat kejadian (UKI) adalah Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia (RSFKUKI).
Menjenguk Awan
Hari Rabu 28 Juli 2010, aku berkesempatan menjenguk Awan. Aku dan tiga orang kawanku berangkat dari Bogor ke Jakarta dengan mengendarai sepeda motor. Aku membonceng Wiji (MNH 37), sedangkan Bombay (ITP 42) membonceng Hasan (FISIKA 42).
Dan memang benar yang diceritakan kawan-kawan. Kondisi awan sangat memprihatinkan. Beberapa selang terpasang di mulutnya, matanya bengkak menghitam, dan…ah…aku tak sanggup menatapnya lama-lama. Aku hanya bisa berdo’a semoga Awan segera diberi kesembuhan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Sempat membaik
Selama di ruang ICU kondisi awan tidak stabil. Kadang membaik, kadang drop lagi. Namun dia masih belum sadarkan diri.
Pernah suatu ketika ibunya berbisik di telinga Awan.
“Kalo Awan denger suara ibu, gerakin dong kakinya!”.
Awan pun menggerakkan kakinya sedikit. Setelah itu diam lagi.
Melihatnya terakhir kali
Hari Ahad 8 Agustus 2010, aku dan kawan-kawan (sekitar 20 orang) kembali menjenguk Awan. Saat masuk ke ruang ICU, aku melihat wajahnya sudah agak bersih. Menurut info yang aku dapat, luka-luka luar di tubuh Awan sudah membaik. Namun, awan masih tak sadarkan diri. Sebuah selang masih terpasang di mulutnya. Nafasnya berat. Kupegang tangannya, hangat. Kemudian aku bacakan surat Al-Fatihah sambil kupegang tangan Awan. Harapanku, bacaan al-fatihah-ku bisa meringankan sakit yang diderita Awan.
“Dan Kami turunkan Al-Qur’an yang merupakan obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra:82)
Ramadhan 1431 H
Tak terasa bulan Ramadhan kembali datang. Aku masih ingat, Ramadhan tahun lalu aku masih sempat berbuka puasa bersama Awan di masjid Imam Ahmad bin Hambal. Bahkan akupun sempat menginap di kosan Awan dan makan sahur bersama. Namun sekarang…..oh ya, bagaimana kondisi Awan sekarang???
Berita terakhir yang kudapat, katanya kondisi Awan sempat membaik. Menurut berita yang kudapat, Awan sempat batuk, menangis, dan mata dan hidungnya bergerak-gerak. Kawan-kawan menduga, paru-paru Awan mulai membaik. Kami semua berharap Awan bisa kembali sehat.
Sehari sebelum puasa (Selasa 10 Agustus 2010) aku sempat menulis di facebook. Kutulis begini…
“Seorang sahabat masih terbaring koma di RSFKUKI…Sudah 2 minggu berlalu…Adik kelas TEP 44…Semoga Alloh member keputusan yang terbaik untuknya…”
Demikian tulisku.
Lalu, bertepatan dengan datangnya tamu agung, bulan yang mulia, bulan yang penuh berkah, bulan yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang dinantikan jutaan orang-orang yang beriman, selepas Maghrib di hari Selasa 10 Agustus 2010, Alloh memberi keputusan kepada Awan.
Aku mendapat SMS dari seorang kawan. SMS itu baru kubuka selepas sholat tarawih pertama di bulan Ramadhan tahun ini. Rupanya SMS itu sudah masuk sejak beberapa jam yang lalu. Begini bunyi SMS-nya…
“Bismillah. Hati kecilku akhirnya berkata benar, setelah tadi siang kupegang tangan & kakinya Awan dingin. Lalu kubisiki beberapa kali ke Awan agar memohon pilihan yang terbaik…Paru2 Awan tak kuat lagi, Takdir Alloh datang dan Awan akhirnya meninggal ba’da adzan maghrib malam tgl 1 Ramadhan 1431 H…”
Deg!
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun…
Aku tak menyangka….sungguh aku tak menyangka… Kawan-kawan pun banyak yang tak menduga. Ternyata Awan pergi begitu cepat. Padahal usianya masih sangat muda. Dan kami mengenal Awan sebagai orang yang sehat dan kuat. Dia terkenal pandai bela diri. Dan aku pernah mendengar, dia sempat berkeinginan jalan kaki dari rumahnya di Bekasi menuju Bogor. Sungguh luar biasa! Tapi….
“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Alloh Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Munafiqun:11)
Memang, kematian adalah suatu hal yang pasti. Dan tak seorang pun tahu kapan waktu kematiannya tiba. Bisa sekarang, besok, lusa, atau … Yang jelas kematian pasti akan datang, cepat atau lambat. Jika memang sudah ajalnya, tak seorang pun bisa mengundurkannya.
Sungguh kematian bisa mendatangi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang yang lanjut usia saja. Tetapi juga orang –orang yang sehat wal afiat, orang dewasa, pemuda, bahkan sampai bayi yang masih menyusu di pangkuan ibunya.
***
Selamat jalan kawan…
Semoga musibah yang menimpamu bisa menjadi penghapus dosa-dosamu selama ini.
“Tidaklah musibah menimpa seorang Muslim melainkan (dengan musibah itu) Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya, hingga (musibah itu berupa) duri yang menusuknya sekalipun.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit atau yang sejenisnya, melainkan Alloh akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya, seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Muslim)
Kawan….
Sungguh kami semua merasa kehilanganmu.
“Sesungguhnya air mata berlinang dan hati bersedih, namun kami tidak berkata-kata melainkan dengan perkataan yang diridhoi Robb kami. Sesungguhnya dengan kepergianmu –wahai Awan…- sungguh membuat kami bersedih.”
Kawan…
Kepergianmu sungguh telah meninggalkan sebuah pelajaran berharga. Engkau telah menyadarkan kami bahwa kami memang harus senantiasa bersiap-siap. Sebab, tamu itu pasti akan datang cepat atau lambat. Tamu itu adalah tamu terakhir yang akan mendatangi setiap yang bernyawa. Dialah kematian…
“Ya Alloh, ampunilah dia, berikanlah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari siksa kubur), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan air es. Bersihkanlah dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran. Berikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berikanlah keluarga yang lebih baik dari keluarganya (di dunia), isteri (atau suami) yang lebih baik daripada isteri (atau suami)nya, dan masukkanlah dia ke Surga, lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa Neraka.” (HR. Muslim dll.)
Wallohu a’lam bishshawab.
Alam Tirta Lestari
Sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan




